Profil Relawan ARM : Januario Maumeta Martins

Akhir bulan November 2017 tepatnya tanggal 27, Jogjakarta dan sekitarnya mengalami ancaman cuaca ekstrem yang disebut dengan siklon cempaka. Association of Resiliency Movement (ARM) perkumpulan gerakan tangguh bencana, merespon kejadian tersebut dengan menerjunkan tim Emergency Response Unit (ERU) di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul awalnya, melihat perkembangan dampak siklon cempaka tidak hanya melanda Daerah Istimewa Yogyakarta, ARM mencoba membantu daerah di luar DIY seperti Pacitan Jawa Timur.

Hari ketiga paska kejadian cuaca ekstrem siklon cempaka, ARM merekrut relawan di Jogja untuk menjalankan operasi tanggap bencana cuaca ekstrem siklon cempaka, informasi yang disebar melalui media sosial dan grup whatsapp tersebut cukup banyak yang merespons dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.

Salah satu relawan yang ikut mendaftar dia adalah yang bernama “Januario Maumeta Martins”, dengan sukarela mendaftarkan diri untuk menjadi relawan TDB Siklon Cempaka – ARM. Setelah mendaftarkan diri melalui nomor Whatsapp yang saat itu disebarluaskan, Martins nama panggilannya datang ke posko TDB siklon cempaka ARM yang berada di Joglo Mahardikan yang beralamat di jl. Babaran gang Empu Gandring I Umbulharjo Yogyakarta.

Mengenalkan diri secara pribadi bukan bagian dari kelompok komunitas relawan, seorang mahasiswa tingkat akhir yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja mengambil jurusan studi pembangunan program studi ekonomi mineral, regional. Langsung mendapat tugas melakukan distribusi bantuan ke Pacitan dan kemudian assessment dan disribusi bantuan ke Kulonprogo.

Pada kejadian banjir yang melanda Majalaya, Kabupaten Bandung, kembali ARM mengundang para mitra ARM sukarelawan yang pernah atau belum bekerjasama dalam kerja – kerja bencana bersama ARM, pria kelahiran Railako, tahun ini akan berusia 25 tahun, lahir pada tanggal 19 September 1993 kembali bersedia membantu operasi paska banjir di Majalaya bersama tiga orang lainnya.

Ketika di tanya tentang motivasi mendaftar sebagai relawan ARM dalam melakukan operasi bencana, di jawabnya sederhana “pokonya niatku bisa tolong orang sudah bikin aku seneng dan bahagia” jawab Martin singkat. Selama proses operasi di Majalaya tidak banyak yang mengetahui jika Martin bukanlah Warga Negara Indonesia, awalnya banyak mitra mengira martin berasal dari Indonesia Timur tepatnya NTT atau Papua, setelah melalui proses bersama baru diketahui selama ini dia berasal dari Timor Leste.

Sementara itu Andy Reza, ketua ARM Indonesia yang kebetulan ikut dalam tim ERU ARM di Majalaya dan menjadi koordinator tim menuliskan tentang Martin, bahwa “kemanusiaan tidak penting dengan identitas dan status sosial” tulisnya di status akun Facebooknya. Martin begitulah dengan kesederhanaannya tidak melihat pandang bulu status sosial, agama, suku, bahasa yang penting bisa membantu sudah membuatnya bahagia. Bahkan ketika ditanya pengalaman yang paling berkesan selama operasi di Majalaya, dengan lugas dia menjawab “sambutan masyarakat, ketika kita hadir mereka bahagia bekerjasama dan itu membuat tenaga keluar gak ada habis – habisnya, apalagi ketika menjalani tugas di sambut dengan senyum bahagia, rasanya senang banget”

Ada satu yang menarik dari pengalaman selama operasi di Majalaya, ternyata Martin ini cukup mengidolakan salah satu anggota tim ERU ARM yang usianya bisa di bilang tidak muda lagi, gegara beliaulah Martin mendapat julukan baru oleh masyarakat di kampung Rancabali, Majalaya, Kabupaten Bandung dengan sebutan “Mantri”.  Beliau adalah bernama Eddy Hartono, banyak kawan memanggilnya Pak Didik atau Pak Dhe, menurut Martin yang familiar memanggil dengan sebutan Pak Dhe adalah partner yang suka bikin ketawa, jadi gak ada capeknya kalau sama Pak Dhe, walaupun jarak usia kami sangat jauh tapi bisa saling ejek bercandaan tentu saja ada batasannya, terutama masalah cewek, dan gegara bercandaan inilah Martin jadi dapat nama panggilan Mantri.

Posted in Berita and tagged , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.